Yang
disebut anemia pada umumnya adalah gejala berkurangnya kadar
eritrosit atau sel darah merah dan hemokrom dalam darah. Gejala yang
termanifestasi pada penderita ialah pucat di bagian muka, daun telinga,
selaput lendir bibir dan selaput mata. Penyebab anemia sebagai berikut.
Pertama,
anemia defisiensi besi. Ini disebabkan kekurangan zat besi yang
merupakan bahan pembuat darah, dan mengakibatkan menurunnya pembentukan
sel darah.
Kedua, fungsi organ pembuat darah mengalami gangguan, dan tidak dapat memproduksi cukup sel darah yang dibutuhkan tubuh.
Ketiga,
kehilangan darah yang berlarut-larut dalam tubuh walaupun dalam
jumlah tidak banyak, misalnya tumor dalam saluran usus, bawasir dan
tukak, lama ke lamaan dapat memicu anemia.
Ke-empat,
bertambah cepatnya perusakan sel darah, misalnya anemia hemolisis.
Selain sebab-sebab tersebut tadi, ada satu jenis anemia yang mempunyai
sebab khusus, yaitu anemia yang diakibatkan penyakit ginjal, di
antaranya prostasi fungsi ginjal dan uremia.
Jangan sembarangan mensubsidi zat besi kepada orang lanjut usia yang terserang anemia.
Sebab orang lanjut usia mengidap anemia selain tubuhnya kekurangan zat besi, juga dapat karena beberapa sebab sebagai berikut.
Pertama,
menurunnya fungsi pembuatan darah. Seiring dengan bertambahnya usia,
organ pembuat darah dalam sumsum tulang berangsur-angsur digantikan
dengan jaringan lemak dan jaring penyambung.
Kedua,
dampak berbagai penyakit. Stadium menengah dan akhir penyakit kanker,
penyakit ginjal kronis, reumatik atau penyakit persendian, leukemia
atau kanker darah, tumor sumsum tulang yang kerap timbul, tukak
pencernaan dan kanker usus besar, kesemua itu dapat memicu anemia.
Ketiga,
kekurangan asam lambung. Banyak orang lanjut usia sekresi asam
lambung berkurang, atau mengkonsumsi preparat anti-asam, yang tidak
menguntungkan bagi pembuangan non-hemokrom besi dan menghalangi
penyerapan zat besi.
Ke-empat,
tidak cukupnya penyerapan protein. Orang lanjut usia umumnya berdiet,
sehingga penyerapan proteinnya kurang, ini akan mengakibatkan anemia.
Kelima,
anemia orang lanjut usia juga berkaitan dengan menurunnya tingkan
persenyawaan protein dalam tubuh, kurangnya penyerapan vitamin B 12, B6
serta asam daun dan nutrein lainnya, juga berkaitan dengan kebiasaan
sering minum teh kental.
Banyak
ilmuwan setelah mengadakan sejumlah besar penelitian mengenai
hubungan zat besi dan dimensia lanjut usia dini berpendapat, akumulasi
zat besi dapat memparah penyakit dimensia lanjut usia dini. Zat besi
dalam kepekatan normal adalah diperlukan bagi pertumbuhan dan fungsi
otak besar, tapi kalau terlalu banyak dapat mengakibatkan jenuhnya
sistem pencadangan besi dalam tubuh, dan akan merusak tubuh.
Oleh
karena itu, orang lanjut usia yang menderita anemia, pertama-tama
harus mengetahui jelas sebab-sebabnya, kemudian baru mengobati
penyakitnya, dan tidak boleh hanya dengan mensubsidi zat besi
semata-mata.
Selain
itu, perlu menambah zat besi dari makanan yang kaya mengandung
protein seperti produk susu, telur, ikan, daging tidak berlemak dan
produk kacang. Selain itu, jeroan binatang dan bidar besar juga
mengandung zat besi yang banyak. Dianjurkan banyak mengkonsumsi sayur
mayur hijau seperti pocai, seledri, sawi dan tomat.
Bagi
wanita setengah baya dan lanjut usia bila menemukan dirinya mengidap
anemia, haruslah cepat-cepat periksa ke dokter untuk mengetahui apakah
disebabkan oleh penyakit ginjal. Karena sebagian wanita berusia 40
tahun ke atas yang menderita anemia adalah disebabkan oleh penyakit
ginjal, dan kebanyakan di antaranya ialah uremia, dan anemia sering
menjadi sebab pertama bagi seseorang untuk pergi periksa ke dokter.
Karena uremia termasuk penyakit berat di antara penyakit dalam, sering
mengancam jiwa pasien, maka, adalah sangat penting untuk menemukan dan
mengobatinya sedini mungkin. Maka, bagi wanita setengah baya atau
lanjut usia yang mengidap anemia, sekali-kali jangan meremehkan
kewaspadaan terhadap penyakit ginjal, agar tidak kasep mendiagnosa atau
mendeteksinya.
Waspadai anemia sebagai akibat diet.
Pakar
gizi memperingatkan, mengurangi berat badan dengan cara diet seperti
menggantikan nasi dengan buah-buahan adalah tidak ilmiah. Karena
walaupun buah-buahan mengandung banyak macam vitamin, tapi tidak kurang
mengandung zat kalsium dan besi, sedangkan operasional normal tubuh
memerlukan protein dan banyak materi lainnya. Menggantikan makanan
pokok dengan buah-buahan dalam jangka panjang akan menyebabkan badan
kekurangan zat yang diperlukan seperti zat besi dan kalsium serta
protein dan mengakibatkan anemia. Kalau keadaan seperti itu berlarut
lama, sangat mungkin akan memicu penyakit lainya. Maka, kalau hendak
menurunkan berat badan dengan cara diet, perlu banyak mengkonsumsi
padi-padian, ikan-ikanan, susu sapi yang relatif rendah kadar lemaknya,
dalam rangka menjamin gizi yang diperlukan tubuh.
Penderita anemia perlu menambah vitamin C dan mengurangi minum teh.
Dewasa
ini, anemia defisiensi besi tetap merupakan salah satu penyakit
kekurangan gizi yang menghantui kesehatan, dan banyak ditemui pada
kelompok wanita subur, lebih-lebih wanita hamil, bayi dan balita serta
pemuda remaja. Karena permintaan mereka akan zat besi cukup banyak,
dan zat besi yang diserap dari makanan sehari-hari tidak dapat
mencukupi kebutuhan fisiologi.
Dalam
mencegah anemia defisiensi besi, selain perlu memperhatikan subsidi
zat besi, juga perlu memperhatikan subsidi vitamin C. Zat besi dan
vitamin C merupakan dua nutrien penting yang dibutuhkan tubuh, dan
ambil bagian dalam banyak proses metabolisme penting dalam tubuh. Pada
puluhan tahun lalu, dalam proses penelitian penyerapan zat besi publik
menemukan bahwa vitamin C berperan mendorong penyerapan zat besi.
Penelitian
selanjutnya juga menemukan, vitamin C terutama mendorong penyerapan
zat besi non-heme dalam tubuh, sekitar 25 miligram vitamin C dapat
mendorong penyerapan zat besi non-heme dalam makanan bertambah 1-2 kali
lipat, 200 miligram vitamin C bahkan dapat memperbanyak penyerapan
zat besi non-heme 5 hingga 6 kali lipat.
Pasien
yang menderita anemia defisiensi besi kalau sering minum teh
khususnya teh kental atau minum teh setelah makan, maka, dapat
menghalangi penyerapan tubuh akan zat besi dari makanan. Kalau hal itu
berlangsung terus, akan mempengaruhi peredaan dan pengobatan gejala
anemia. Karena daun teh mengandung banyak asam tanat dan tanin serta
materi lainnya. Materi tersebut mudah bersenyawa dengan zat besi dalam
makanan di lambung dan usus, sehingga menjadi semacam kompon besi yang
tidak dapat diserap dan dimanfaatkan tubuh manusia, dan mempengaruhi
penyerapan dan pemanfaatan zat besi dalam makanan oleh tubuh.
Menurut
penelitian, minum teh dapat mengurangi 50 persen ke atas penyerapan
zat besi dalam makanan, maka, dianjurkan mereka yang mengidap anemia
defisiensi besi sebaiknya tidak minum teh. Selain itu, penderita anemia
defisiensi besi kalau sering mengkonsumsi produk teh, seperti kueh
kering atau kembang gula dengan ramuan teh juga dapat menghalangi
penyerapan dan pemanfaatan zat besi yang terkandung dalam makanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar